Aksi Nyata Penerapan Pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam Kelas
1. Perasaan Selama Melakukan Perubahan di Kelas
Gambar 1. Foto Bercerita dari Seluruh Rangkaian Pelaksanaan (sumber: penulis)
Proses kegiatan PPL memberikan kesempatan kepada kami mahasiswa PPG untuk masuk di dalam kelas. Serta diberikan kesempatan untuk mengelola kelas secara langsung setelah melakukan orientasi dan observasi. Kesempatan ini yang kami manfaatkan untuk melakukan perubahan proses pembelajaran yang lebih berpihak pada peserta didik dan menerapkan secara langsung pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang dasar-dasar pendidikan. Selain itu, konteks sosiokultural juga berusaha diterapkan dalam proses pembelajaran sebagaimana Ki Hajar Dewantara yang menggali nilai-nilai budaya lokal dalam gagssannya mengenai pendidikan.
Perasaan
saya mendapat kesempatan bersama teman-teman kelompok PPL saya untuk mengelola
kelas dengan berusaha menerapkan pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara
mengenai pendidikan dan disesuaikan dengan konteks sosiokultural merasa
antusias dan bersemangat karena dapat menggali lebih dalam tentang nilai-nilai
sosiokultural yang berkembang pada lingkungan peserta didik. Peserta didik juga
memberikan respon positif ketika kami masuk dalam kelas didampingi guru pamong.
Banyak pengalaman dan tantangan yang kami peroleh ketika mengelola kelas secara langsung. Terdapat tantangan untuk menerapkan pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam proses pembelajaran, yaitu kami harus mampu untuk mengetahui karakteristik peserta didik agar pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan pendidikan yang menuntun menurut Ki Hajar Dewantara yaitu menuntun sesuai dengan kodrat yang dimiliki anak karena ada banyak peserta didik dalam satu kelas. Tetapi kami berusaha untuk menyesuaikan pembelajaran yang dilakukan dengan karakteristik peserta didik.
2.
Ide
atau Gagasan yang Timbul Sepanjang Proses Perubahan
Ide
yang muncul sepanjang proses perubahan pelajaran dalam kelas yaitu pengembangan
karakteristik peserta didik yang disesuaikan dengan konteks budaya lokal.
Banyak nilai-nilai budaya lokal di zaman modernisasi saat ini yang mulai luntur
dan dilupakan oleh generasi penerus. Oleh sebab itu, ide ini muncul saat
pembelajaran di kelas dan terinspirasi dengan topik belajar dasar-dasar
pendidikan Ki Hajar Dewantara.
Nilai-nilai budaya lokal yang terkenal di masyarakat Makassar yaitu nilai sipakainga, sipakatau, sipakalabbiri, sipakatau, sipakalabbiri yang berarti saling mengingatkan, saling menghormati, dan saling menghargai. Nilai- nilai konteks budaya lokal ini sangat baik untuk diterapkan di dalam pembelajaran di kelas. Penerapan nilai-nilai tersebut dapat ditumbuhkan antara siswa, ataupun siswa dengan guru, dan masyarakat sekolah.
3.
Pembelajaran
dan Pengalaman dalam Bentuk Catatan Praktik Baik
Pengalaman selama mengelola kelas bersama dengan teman-teman memberikan gambaran kondisi peserta didik saat ini yang sudah berbeda dengan saat kami bersekolah dulu. Peserta didik saat ini sudah sangat paham dengan penggunaan teknologi pembelajaran dan mudah mengakses informasi dari pemanfaatan teknologi, informasi, dan komunikasi. Tetapi masih menjadi tantangan pada pengembangan karakter peserta didik. Gambaran peserta didik tersebut menjadi sebuah pembelajaran bagi kami untuk dapat mewujudkan suasana pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi tetapi tidak lupa untuk tetap menyesuaikan dengan kodrat anak dan memperhatikan karakter peserta didik dengan penanaman nilai-nilai budaya lokal yang berkembang di masyarakat sekitar.
Gambar 2. Testimoni praktik baik (sumber: penulis)
Catatan : Topik 2 Aksi Nyata Mata Kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia


Komentar
Posting Komentar