Gerakan Transformasi Ki Hadjar Dewantara dalam Perkembangan Pendidikan Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan
Gerakan Transformasi Ki Hadjar Dewantara
Oleh : Muhajirin Makkawaru (Mahasiswa PPG Prajabatan Fisika Tahap 2)
Apakah pendidikan kita sudah merdeka? Sebuah pertanyaan yang masih harus dipertanyakan setelah Indonesia meraih kemerdekaannya 77 tahun yang lalu. Berbagai persoalan dalam dunia pendidikan masih ada hingga saat ini. Bukan waktu yang singkat sejak dunia pendidikan muncul dan masih banyak yang harus diperbaiki dan ditingkatkan untuk dunia pendidikan yang lebih baik.
Gambar 1. Pendidikan zaman penjajahan (sumber : Bobo.ID)
Mengulur waktu kembali ke
masa lalu melihat dan merefleksi perkembangan dunia pendidikan. Dimulai dari
sistem pengajaran sejak zaman Portugis masuk ke Indonesia pada abad ke-16 yang
dikenal dengan sistem pengajaran di bawah kelembagaan, kemudian disusul Bangsa
Spanyol yang bertujuan penyebaran agama Kristen dan penjajahan rempah-rempah.
Dilanjutkan kedatangan Belanda yang mendirikan sekolah karena memerlukan tenaga
pembantu yang murah untuk keperluan menggerakkan roda pemerintahan dan
perekonomian yang diambil dari kalangan penduduk pribumi. Ketika Belanda
menyerah kepada sekutu, Jepang akhirnya mendirikan sekolah untuk mengajarkan
Bahasa Jepang untuk memenuhi ambisi mereka “Kemakmuran Bangsa Asia Timur Raya.”
(Makmur dkk, 1993).
Pendidikan zaman penjajahan
hanya dilakukan untuk membantu dengan memanfaatkan penduduk untuk memenuhi
kebutuhan penjajah. Sehingga lambat laun muncul kesadaran oleh tokoh-tokoh
bangsa setelah sekian lama dijajah oleh bangsa asing. Seperti Ki Hajar
Dewantara yang mendirikan Sekolah Taman Siswa.
Gambar 2. Ki Hajar Dewantara (sumber: wikipedia)
Ki Hajar Dewantara sebagai
Bapak Pendidikan Nasional banyak memberikan pemikiran-pemikiran sebagai
filosofi pendidikan nasional. Transformasi pendidikan yang dibawa oleh Ki Hajar
Dewantara memberikan dampak yang positif. Pemikiran-pemikiran beliau tentang
pendidikan begitu berharga dan masih sesuai dengan perkembangan zaman sekarang
ini karena merupakan hal-hal mendasar sehingga sangat cocok untuk selalu
diingat.
Pemikiran kritis dan
analisis yang dibawa oleh Ki Hajar Dewantara menghapus tujuan pendidikan zaman
penjajahan untuk memenuhi kebutuhan para penjajah menjadi tujuan mulia yaitu
menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka
sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setinggi-tingginya. (Marwah dkk., 2018).
Namun apakah tujuan
pendidikan Ki Hajar Dewantara masih terealisasi hingga saat ini? Pemerintah
saat ini di bawah Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Bapak
Nadiem Anwar Makarim banyak memberikan terobosan baru dengan konsep MERDEKA
yang berusaha memerdekakan peserta didik dan mahasiswa memilih pelajaran yang
ingin dipelajari dan berbagai kegiatan yang dapat dikatakan mahasiswa merdeka
melakukan apa yang ingin mereka lakukan.
Akan tetapi, setiap
tindakan dan kebijakan pasti memiliki hal positif dan negatif, begitu pula
konsep MERDEKA yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan kita. Kebijakan yang
selalu berubah ketika pemangku kebijakan juga berubah adalah masalah yang turut
saya rasakan pula sebagai seorang pelajar. Contohnya pada kurikulum yang selalu
berubah setiap ganti menteri. Merupakan hal yang membuat kebingungan bukan
hanya guru, tetapi peserta didik, orang tua, dan pihak-pihak yang terkait
dengan dunia pendidikan. Penetapan kurikulum yang bisa bertahan dan
berkelanjutan, fleksibel sesuai perkembangan zaman adalah salah satu harapan
untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik.
Pendidikan
sebagai Tuntunan, yaitu Tuntunan dalam Hidup dan Tumbuhnya Pelajar –
Ki Hajar Dewantara
Sumber :
Makmur,
D., Haryono, PS., Musa, S., dan Hadi, S. 1993. Sejarah Pendidikan di Indonesia Zaman Penjajahan. Jakarta : CV.
Manggala Bhakti.


terima kasih untuk ilmunya🙏
BalasHapusSama-sama
Hapus